Nasehat
Habib Wahabi Kepada Habib Sufi+Syiah
Sungguh merupakan suatu kemuliaan tatkala seseorang ternyata termasuk Ahlul
Bait, tatkala seseorang merupakan cucu dan keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam, menjadi keturunan orang yang paling mulia yang pernah ada di atas
muka bumi.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan kita untuk
memperhatikan para Ahlul Bait. Kita sebagai seorang ahlus sunnah, bahkan
sebagai seorang muslim harus menghormati keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam jika keturunan Nabi tersebut adalah orang yang bertakwa.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
وأهلُ بَيتِي، أُذكِّرُكم اللهَ في أهل بيتِي، أُذكِّرُكم اللهَ في أهل
بيتِي، أُذكِّرُكم اللهَ في أهل بيتِي
“Dan keluargaku, aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang ahlu baiti (keluargaku), aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang keluargaku, aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang ahlu baiti keluargaku” (HR Muslim no 2408)
“Dan keluargaku, aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang ahlu baiti (keluargaku), aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang keluargaku, aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang ahlu baiti keluargaku” (HR Muslim no 2408)
Yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk bertakwa
kepada Allah dalam memperhatikan hak-hak Ahlul Bait, dan memerintahkan kita
untuk menghormati mereka. Hal ini menunjukkan bahwa Ahlul Bait memiliki
manzilah dalam Islam.
Abu Bakar radhiallahu ‘anhu pernah berkata kepada Ali bin Abi Thholib :
قرابَتِي وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَرَابَةُ
رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أحبُّ إليَّ أنْ أَصِلَ من
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh kerabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih aku sukai untuk aku sambung (silaturahmi) daripada kerabatku sendiri” (HR Al-Bukhari no 3711)
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh kerabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih aku sukai untuk aku sambung (silaturahmi) daripada kerabatku sendiri” (HR Al-Bukhari no 3711)
Sungguh begitu bahagianya tatkala saya bertemu dengan cucu-cucu Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam di Kota Nabi shallallahu yang tegar dan
menyerukan sunnah Nabi dan memerangi kesyirikan dan kebid’ahan. Begitu
bahagianya saya tatkala sempat kuliah di Unversitas Islam Madinah program
jenjang Strata 1 selama 4 tahun (tahun 2002 – 2006) di fakultas Hadits yang
pada waktu itu dekan kuliah hadits adalah Doktor Husain Syariif
al-’Abdali yang merupakan Ahlul Bait…yang menegakkan sunnah-sunnah
leluhurnya dan memberantas bid’ah yang tidak pernah diserukan oleh leluhurnya.
Alhamdulillah hingga saat artikel in ditulis beliau masih menjabat
sebagai Dekan Fakultas Hadits.
Akan tetapi merupakan perkara yang sangat menyedihkan tatkala saya
mendapati sebagian ahlul bait yang menjadi pendukung bid’ah…pendukung aqidah
dan amalan yang tidak pernah diserukan oleh Leluhur mereka habibuna Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan betapa banyak orang syi’ah Rofidoh yang
mengaku-ngaku sebagai cucu-cucu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan
mereka mengkafirkan ahlul bait yang sangat dicintai oleh Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam yaitu istri beliau ‘Aisyah radhiallahu ‘anhaa. Demikian juga
mereka mengkafirkan lelaki yang paling dicintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam yaitu Abu Bakar radhiallahu ‘anhu. Wallahul Musta’aan…
Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah terhadap Ahlul Bait adalah sikap tengah
antara sikap berlebih-lebihan (ghuluw) dan sikap kurang/keras kepada Ahlul
Bait.
Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengenal keutamaan orang yang menggabungkan antara
keutamaan takwa dan kemuliaan nasab.
-
Maka barangsiapa diantara Ahlul Bait
yang merupakan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Ahlus Sunnah
mencintainya karena tiga perkara, karena sebagai sahabat Nabi, karena
ketakwaannya dan karena kekerabatannya dengan Nabi.
-
Barangsiapa diantara Ahlul Bait yang
bukan merupakan sahabat akan tetapi bertakwa maka Ahlus Sunnah mencintainya
karena dua perkara, karena ketakwaannya dan karena kekerabatannya.
Ahlus Sunnah meyakini bahwa kemuliaan nasab mengikuti kemuliaan
takwa dan iman.
Adapun barangsiapa diantara Ahlul Bait yang tidak bertakwa maka kemuliaan
nasabnya tidak akan memberi manfaat baginya. Allah telah berfirman :
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu
disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu” (QS
Al-Hujuroot : 13).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ
نَسَبُهُ
“Barang siapa yang amalannya memperlambatnya maka
nasabnya tidak akan bisa mempercepatnya” (HR Muslim no 2699)
Al-Imam An-Nawawi mengomentari hadits ini :
مَعْنَاهُ مَنْ كَانَ عَمَلُهُ نَاقِصًا
لَمْ يُلْحِقْهُ بِمَرْتَبَةِ أَصْحَابِ الأَعْمَالِ فَيَنْبَغِى أَنْ لاَ
يَتَّكِلَ عَلَى شَرَفِ النَّسَبِ وَفَضِيْلَةِ الآبَاءِ وَيُقَصِّرُ فِى الْعَمَلِ
“Makna hadits ini yaitu barang siapa yang amalnya
kurang maka nasabnya tidak akan membuatnya sampai pada kedudukan orang-orang
yang beramal, maka seyogyanya agar ia tidak bersandar kepada kemuliaan nasabnya
dan keutamaan leluhurnya lalu kurang dalam beramal” (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim
17/22-23)
Ibnu Rojab Al-Hanbali berkata :
فَمَنْ أَبْطَأَ بِهِ عَمَلُهُ أَنْ
يَبْلُغَ بِهِ الْمَنَازِلَ الْعَالِيَةَ عِنْدَ اللهِ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ
نَسَبُهُ فَيُبَلِّغُهُ تِلْكَ الدَّرَجَاتِ، فَإِنَّ الله تَعَالَى رَتَّبَ
الْجَزَاءَ عَلَى الأَعْمَالِ لاَ عَلَى الأَنْسَابِ كَمَا قَالَ تَعَالَى فَإِذَا
نُفِخَ فِي الصُّوْرِ فَلاَ أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلاَ
يَتَسَاءَلُوْنَ
“Barangsiapa
yang amalnya lambat dalam mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah maka
nasabnya tidak akan mempercepat dia untuk mencapai derajat yang tinggi
tersebut. Karena Allah memberi ganjaran/balasan atas amalan dan bukan
atas nasab sebagaimana firman Allah
فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلا
يَتَسَاءَلُون
“Apabila sangkakala ditiup Maka tidaklah ada lagi
pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling
bertanya” (QS Al-Mukminun : 101)” (Jaami al-’Uluum wa al-Hikam hal 652)
Ibnu Rojab berkata selanjutnya:
“Dan dalam Musnad (*Ahmad) dari Mu’adz bin Jabal
bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala mengutus beliau ke negeri
Yaman maka Nabi keluar bersama beliau sambil memberi wasiat kepada beliau, lalu
Nabi berpaling dan menghadap ke kota Madinah dengan wajahnya dan berkata :
إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِي الْمُتَّقُوْنَ، مَنْ
كَانُوْا حَيْثُ كَانُوْا
“Sesungguhnya orang-orang yang paling dekat dengan aku
adalah orang-orang yang bertakwa, siapa saja mereka dan di mana saja mereka” (*HR
Ahmad no 22052)
Dan At-Thobroni mengeluarkan hadits ini dengan tambahan :
إِنَّ أَهْلَ بَيْتِي هَؤُلاَءِ يَرَوْنَ
أَنَّهُمْ أَوْلَى النَّاسِ بِي وَلَيْسَ كَذَلِكَ، إِنَّ أَوْلِيَائِي مِنْكُمُ
الْمُتَّقُوْنَ مَنْ كَانُوْا وَحَيْثُ كَانُوْا
“Sesungguhnya Ahlul Bait mereka memandang bahwasanya
mereka adalah orang yang paling dekat denganku, dan perkaranya tidak demikian,
sesungguhnya para wali-waliku dari kalian adalah orang-orang yang
bertakwa, siapapun mereka dan di manapun mereka” (*HR
At-Thobroni 20/120 dan Ibnu Hibbaan dalam shahihnya no 647. Al-Haitsaimy dalam
Majma’ Az-Zawaid (10/400) berkata : Isnadnya jayyid (baik), demikian juga
Syu’aib Al-Arnauuth berkata : Isnadnya kuat)
Dan semua ini didukung oleh sebuah hadits yang terdapat di Shahih
Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari ‘Amr bin Al-’Aash bahwasanya beliau mendengar
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ آلَ أَبِي فُلاَنٍ لَيْسُوْا لِي بِأَوْلِيَاءِ
وَإِنَّمَا وَلِيِّي اللهُ وَصَالِحُو الْمُؤْمِنِيْنَ
“Sesungguhnya keluarga ayahku –yaitu si fulan-
bukanlah para waliku, dan hanyalah para waliku adalah Allah, dan orang-orang
mukmin yang sholih” (*HR Al-Bukhari no 5990 dan Muslim no 215)
Rasulullah memberi isyarat bahwa walaa’ kepada beliau tidak diperoleh
dengan nasab meskipun dekat nasabnya, akan tetapi diperoleh dengan keimanan dan
amalan sholeh. Maka barangsiapa yang
imannya dan amalannya semakin sempurna maka walaa’nya semakin besar kepada
Nabi, sama saja apakah ia memiliki nasab yang dekat dengan Nabi ataukah tidak.
Dan dalam penjelasan ini seorang (penyair) berkata :
|
فَلاَ تَتْرُكِ التَّقْوَى اتِّكالاً عَلَى
النَّسَبِ
|
لعمرُك ما الإنسانُ إلَّا
بِدِيْنِهِ
|
|
Maka
janganlah engkau meninggalkan ketakwaan dan bersandar kepada nasab
|
“Tidaklah seseorang (bernilai) kecuali dengan
agamanya
|
|
وَقَدْ وَضَعَ الشِّرْكُ النَّسِيبَ أبا لَهَبِ
|
لَقَدْ رَفَعَ الإِسْلاَمُ سَلْمَانَ
فَارِسٍ
|
|
Dan
kesyirikan telah merendahkan orang yang bernasab tinggi si Abu Lahab”.
|
Sungguh Islam telah mengangkat Salman Al-Farisi
(*yang bukan orang arab)
|
(Demikian perkataan ibnu Rojab, Jaami’
al-’Uluum wa al-Hikam, hal 653-654, Syarah hadits ke 36)
Al-Imam An-Nawawi mengomentari hadits di atas:
ومعناه إِنما وليي من كان صالحا وإِن بَعُدَ نَسَبُه
مِنِّي وليس وليي من كان غير صالح وان كان نسبه قريبا
“Dan maknanya adalah : Yang menjadi Waliku hanyalah
orang yang sholeh meskipun nasabnya jauh dariku, dan tidaklah termasuk waliku
orang yang tidak sholih meskipun nasabnya dekat” (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim
3/87)
Sungguh sangat menyedihkan ternyata di tanah air Indonesia ada sebagian
Ahlul Bait yang menjadi pendukung bid’ah dan aqidah yang menyimpang. Sehingga
sebagian masyarakat muslim Indonesia langsung tertarik dengan dakwah yang
diserukannya. Bahkan sebagian masyarakat Indonesia menyangka bahwa apa saja
yang dibawa dan didakwahkan olehnya itulah kebenaran.
Padahal di sana masih banyak Ahlul Bait (para Habib) yang menyeru kepada
sunnah Nabi dan memerangi bid’ah.
Oleh karenanya pada artikel ini saya ingin menjelaskan kepada para pembaca
bahwasanya para habib bukan hanya mereka-mereka yang menyeru pada acara bid’ah
(habib-habib sufi) atau mereka-mereka yang menyeru kepada kekufuran (seperti
habib-habib syi’ah rofidhoh) akan tetapi masih banyak habib-habib yang menyeru
kepada tauhid dan sunnah serta memerangi kesyirikan dan bid’ah.
HABIB-HABIB YANG MENOLAK MAULID
Berikut ini nasehat yang datang dari lubuk hati yang paling dalam yang
ditulis oleh para habib wahabi kepada para habib yang gemar melaksanakan
perayaan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Segala puji bagi Allah penguasa alam semesta, Yang Maha pemberi petunjuk
kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari para hambaNya kepada jalan yang
lurus. Sholawat dan salam tercurahkan kepada manusia tersuci yang telah diutus
sebagai rahmat untuk alam dan juga tercurahkan kepada keluarganya serta
seluruh para sahabatnya.
Kemudian daripada itu, di antara Prinsip-prinsip yang agung yang
berpadu di atasnya hati-hati para ulama dan kaum Mukminin adalah meyakini
(mengimani) bahwa petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah
petunjuk yang paling sempurna, dan syari’at yang beliau bawa adalah syari’at
yang paling sempurna, Allah Ta’ala berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ
وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu
dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi
agamamu. (QS. Al maidah:3)
Dan meyakini (mengimani) bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam merupakan agama yang dipanuti oleh seorang muslim. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Tidak sempurna iman salah seorang di antara kamu
sehingga aku lebih dia cintai dari ayahnya, anaknya, dan semua manusia.(HR.
al-Bukhari & Muslim)
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para nabi, Imam
orang-orang yang bertaqwa, Pemimpin anak-cucu Adam, Imam Para Nabi jika mereka
dikumpulkan, dan Khatib mereka jika mereka diutus, si Pemilik al-Maqoom
al-Mahmuud dan Telaga yang akan dihampiri, Pemilik bendera pujian, pemberi
syafa’at manusia pada hari kiamat, Pemilik al-Washiilah dan al-Fadhiilah.
Allah telah mengutusnya dengan membawa kitab suci yang terbaik, dan Allah
telah memberikan kepadanya syari’at yang terbaik, dan Allah menjadikan umatnya
sebagai umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, Allah Ta’ala berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ
أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ
اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri
teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS.
al-Ahzab: 21)
Dan di antara kecintaan kepada beliau adalah mencintai keluarga beliau
(Ahlul Bait), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
وأهلُ بَيتِي، أُذكِّرُكم اللهَ في أهل بيتِي، أُذكِّرُكم اللهَ في أهل
بيتِي، أُذكِّرُكم اللهَ في أهل بيتِي
“Dan keluargaku, aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang ahlu baiti (keluargaku), aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang keluargaku, aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang ahlu baiti keluargaku” (HR Muslim no 2408)
“Dan keluargaku, aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang ahlu baiti (keluargaku), aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang keluargaku, aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang ahlu baiti keluargaku” (HR Muslim no 2408)
Maka wajib bagi keluarga Rasulullah (Ahlul Bait) untuk menjadi
orang yang paling yang mulia dalam mengikuti Sunnah Beliau Shallallahu
‘alaihi wasallam, paling meneladani petunjuknya, dan wajib atas mereka untuk
merealisasikan cinta yang sebenarnya (terhadap beliau shallallahu ‘alaihi
wasallam, red.), serta menjadi manusia yang paling menjauhi hawa nafsu. Karena
Syari’at datang untuk menyelisihi penyeru hawa nafsu, Allah Ta’ala berfirman:
فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى
يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ
حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak
beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka
perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka
terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan
sepenuhnya. (QS. An-Nisa’: 65)
Kecintaan yang hakiki pastilah akan malazimkan Ittiba’ yang benar. Allah
Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ
فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ
غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah:”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah,
ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali ‘Imran: 31)
Seseorang bukan hanya sekedar berafiliasi kepada
beliau secara nasab sudah cukup untuk menjadikannya sesuai dengan kebenaran
dalam segala perkara yang tidak mungkin untuk disalahkan atau berpaling darinya.
Dan di antara fenomena yang menyakitkan hati seseorang yang diterangi oleh
Allah Ta’ala pandangannya dengan cahaya ilmu, dan mengisi hatinya dengan cinta
dan kasih sayang kepada keluarga NabiNya (ahlul bait), khususya jika dia
termasuk Ahlul Bait, dari keturunan beliau yang mulia : Adalah terlibatnya
sebagian anak-cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia (Ahlul
Bait/Habaib) dalam berbagai macam penyimpangan syari’at, dan pengagungan mereka
terhadap syi’ar-syi’ar yang tidak pernah dibawa oleh al-Habib al-Mushtafa
Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dan di antara syi’ar-syi’ar yang diagungkan yang tidak berdasarkan petunjuk
moyang kami Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut adalah bid’ah
peringatan Maulid Nabi dengan dalih cinta. Dan ini merupakan sebuah
penyimpangan terhadap prinsip yang agung ini (*yaitu sempurnanya syari’at dan
petunjuk Nabi), dan tidak sesuai dengan Maqasidu asy-Syari’at yang suci yang
telah menjadikan ittiba’ (mengikuti) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
sebagai standar utama yang dijadikan rujukan oleh seluruh manusia dalam segala
sikap dan perbuatan (ibadah) mereka.
Karena kecintaan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam
mengharuskan ittiba’ (mengikuti) beliau Shallalllahu ‘alaihi
wasallam secara lahir dan batin. Dan tidak ada pertentangan antara mencintai
beliau dengan mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan ittiba’
(mengikuti) beliau merupakan landasan kecintaan kepadanya. Dan orang-orang yang
mengikuti beliau secara benar (Ahlul ittiba’) adalah mereka yang
meneladani sunnahnya, menapak tilas petunjuknya, membaca sirah
(perjalanan hidup)nya, mengharumi majelis-majelis mereka dengan pujian-pujian
terhadapnya tanpa membatasi pada hari tertentu, dan tanpa sikap berlebihan
dalam menyifatinya serta menentukan tata cara yang tidak berdasar dalam
syari’at Islam.
Dan di antara yang membuat perayaan tersebut sangat jauh dari petunjuk Nabi
adalah sikap berlebih-lebihan (pengkultusan) kepada beliau dengan
perkara-perkara yang beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri tidak
mengizinkannya dan tidak meridho dengan hal itu. Sebagian sikap
berlebih-lebihan tersebut dibangun di atas Hadits-hadits yang bathil dan
aqidah-aqidah yang rusak. Telah valid dari Rasulullahu shallallahu ‘alaihi
wasallam pengingkaran terhadap sikap-sikap yang berlebihan seperti ini, dengan
sabdanya:
Janganlah kalian berlebih-lebihan kepadaku seperti
orang-orang nasrani yang berlebih-lebihan terhadap putra maryam. (HR.
al-Bukhari)
Maka bagaimana dengan faktanya, sebagian majelis dan puji-pujian dipenuhi
dengan lafazh-lafazh bid’ah, dan istighatsah-istighatsah syirik.
Dan perayaan Maulid Nabi merupakan amalan/perbuatan
yang tidak pernah dilakukan dan diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi
wasallam, dan tidak pernah pula dilakukan oleh seorangpun dari kalangan Ahlul
Bait yang mulia, seperti ‘Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein, Ali Zainal
Abidin, Ja’far ash-Shadiq, serta tidak pernah pula diamalkan oleh para Sahabat
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam –Radhiyallahu ‘anhum ajma’in—begitu pula
tidak pernah diamalkan oleh seorang pun dari para tabi’in dan para pengikut
tabi’in, dan tidak pula Imam Madzhab yang empat, serta tidak seorangpun dari
kaum muslimin pada periode-periode pertama yang dimuliakan.
Jika ini tidak dikatakan bid’ah, lalu apa bid’ah itu sebenarnya? Dan
Bagaimana pula apabila mereka bersenandung dengan memainkan rebana?, dan
terkadang dilakukan di dalam masjid-masjid? Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam mengucapkan -tentang acara seperti ini dan yang semisalnya- suatu
perkataan sebagai pemutus yang tidak ada pengecualian di dalamnya:
“Semua bid’ah itu sesat”. (HR.
Muslim).
Wahai Tuan-tuan Yang terhormat! Wahai sebaik-baiknya keturunan di muka
bumi, sesungguhnya kemulian Asal usul dan nasab merupakan kemulian yang diikuti
dengan taklif (pembebanan), yakni melaksanakan sunnah Rasululullah shallallahu
‘alaihi wasallam, dan berusaha untuk menyempurnakan amanahnya setelah
sepeninggalnya, dengan menjaga agama, menyebarkan dakwah yang dibawanya.
Dan sikap seseorang yang mengikuti apa yang tidak dibolehkan oleh syari’at
tidak mendatangkan kebenaran sedikitpun, dan merupakan amalan yang ditolak oleh
Allah Ta’ala, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam:
Barangsiapa mengada-adakan sesuatu yang baru di dalam
urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk di dalamnya, maka ia tertolak. (HR.
al-Bukhari dan Muslim)
Waspadalah dan bertakwalah kalian kepada Allah, wahai para Ahlu bait Nabi!,
Jangan kalian diperdayakan oleh kesalahan orang yang melakukan kesalahan, dan
kesesatan orang yang sesat, sehingga kalian menjadi para pemimpin di luar garis
petunjuk! Demi Allah, tidak seorangpun di muka bumi ini lebih kami inginkan
untuk mendapatkan hidayah daripada kalian, karena kedekatan kekerabatan kalian dengan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ini merupakan seruan dari hati-hati yang mencintai dan menginginkan
kebaikan bagi kalian, dan menyeru kalian untuk selalu mengikuti sunnah leluhur
kalian (*Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dengan meninggalkan bid’ah maulid
ini dan seluruh amalan yang tidak diketahui oleh seseorang dengan yakin bahwa
itu merupakan sunnah dan agama yang dibawanya, maka bersegeralah dan
bersegeralah, Karena :
وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ
نَسَبُهُ
“Barang siapa yang amalannya memperlambatnya maka
nasabnya tidak akan bisa mempercepatnya” (HR Muslim no 2699)
Yang menanda tangani risalah di atas yaitu:
1. Habib Syaikh
Abu Bakar bin Haddar al-Haddar (Ketua Yayasan Sosial Adhdhamir al-Khairiyah di
Tariim)
2. Habib Syaikh
Aiman bin Salim al-’Aththos (Guru Ilmu Syari’ah di SMP dan Khatib di Abu
‘Uraisy)
3. Habib Syaikh
Hasan bin Ali al-Bar (Dosen Kebudayaan Islam Fakultas Teknologi di Damam dan
Imam serta khatib di Zhahran.
4. Habib Syaikh
Husain bin Alawi al-Habsyi (Bendahara Umum ‘Muntada al-Ghail ats-Tsaqafi
al-Ijtima’I di Ghail Bawazir)
5. Habib Syaikh
Shalih bin Bukhait Maula ad-Duwailah (Pembimbing al-Maktab at-Ta’awuni Li
ad-Da’wah wal Irsyad wa Taujih al-Jaliyat, dan Imam serta Khatib di Kharj).
6. Habib Syaikh
Abdullah bin Faishal al-Ahdal (Ketua Yayasan ar-Rahmah al-Khairiyah, dan Imam
serta Khatib Jami’ ar-Rahmah di Syahr).
7. Habib Syaikh
DR. ‘Ishom bin Hasyim al-Jufri (Ustadz Musaa’id Fakultas Syari’ah Jurusan
Ekonomi Islam di Universitas Ummu al-Qurra’, Imam dan Khotib di Mekkah).
8. Habib Syaikh
‘Alawi bin Abdul Qadir as-Segaf (Pembina Umum Mauqi’ ad-Durar )
9. Habib Syaikh
Muhammad bin Abdullah al-Maqdi (Pembina Umum Mauqi’ ash-Shufiyah, Imam dan
Khotib di Damam).
10. Habib Syaikh
Muhammad bin Muhsi al-Baiti (Ketua Yayasan al-Fajri al-Khoiriyah, Imam dan
Khotib Jami’ ar-Rahman di al-Mukala).
11. Habib Syaikh
Muhammad Sami bin Abdullah Syihab (Dosen di LIPIA Jakarta)
12. Habib Syaikh
DR. Hasyim bin ‘Ali al-Ahdal (Prof di Universitas Ummul Qurra’ di Mekkah
al-Mukarramah Pondok Ta’limu al-Lughah al-‘Arabiyah Li Ghairi an-Nathiqin Biha)
Sumber:
(http://www.islammemo.cc/akhbar/arab/2009/03/08/78397.html), atau di
(http://www.islamfeqh.com/News/NewsItem.aspx?NewsItemID=1002), atau di
(http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=164925), atau di
Sepak Terjang Para Habib Memberantas Syirik dan Bid’ah
Untuk lebih mengenal sepak terjang para Habib wahabi yang getol membela
sunnah leluhur mereka dan memerangi bid’ah yang tidak pernah diajarkan oleh
leluhur mereka, maka kami sangat berharap kepada para pembaca sekalian untuk
mengunjungi website-website berikut ini:
Pertama : www.dorar.net , sebuah website yang dimiliki
dan dikelola oleh Habib ‘Alawi bin ‘Abdil Qoodir As-Saqqoof. Dalam
web ini para pembaca bisa melihat sepak terjang beliau dalam berdakwah di atas
manhaj salaf dan memberantas bid’ah.
Bahkan dalam website beliau ada penjelasan tentang bahwa nasab As-Syaikh
Abdul Qoodir Al-Jailaani dan juga As-Syaikh Ahmad Ar-Rifaa’i bukanlah termasuk
Ahlul Bait. Karena dalam rangka melariskan pemahaman yang sesat maka kaum sufi
menisbahkan kedua Syaikh ini kepada Ahlul Bait. (silahkan lihat : http://www.dorar.net/enc/firq/2400)
Kedua : www.alsoufia.com, website
ini dimiliki dan dikelola Habib Muhammad bin Abdillah Al-Maqdiy. Dalam web ini
sangat nampak bagaimana usaha Habib Muhammad Al-Maqdy untuk membantah bid’ah
sufi.
Ketiga : alalbayt.com, dalam web ini juga para pembaca
yang budiman bisa melihat betapa banyak Ahlul Bait yang berjuang membela sunnah
leluhur mereka dan memberantas ajaran baru (bid’ah) yang tidak pernah dilakukan
oleh leluhur mereka. Bahkan para pembaca akan dapati bagaimana Ahlul Bait
wahabi membantah Ahlul Bait Sufi dan Ahlul Bait Syi’ah
Demikian juga kami sangat berharap para pembaca untuk menelaah kitab-kitab
berikut yang ditulis oleh para habib wahabi untuk membantah para habib sufi.
Pertama : kitab نسيم حاجر في تأكيد قولي عن مذهب
المهاجر, karya
Mufti Hadromaut Habib Al-’Allaamah Abdurrohman bin Abdillah As-Saqqoof (wafat
tahun 1375 H), yang kitab ini sungguh menggoncang para sufi di kita Hadromaut
di Yaman.
Silahkan mendownloadnya di (http://www.soufia-h.com/soufia-h/book/naseem-hajer.rar).
Adapun resensi buku ini bisa dilihat di
(http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=171629)
Kedua : Kitab التصوف بين التمكين والمواجهة, karya Habib Muhammad bin Abdillah
Al-Maqdi. Silahkan mendownload kitab tersebut di
(http://d1.islamhouse.com/data/ar/ih_books/single3/ar_altasouf_bain_altamkeen.pdf),
Ketiga : Kitab إلى أين أيها الحبيب الجفري؟, ini adalah
kitab karya Habib Doktor Kholduun Makkiy Al-Hasaniy yang disusun untuk
membantah Habib Ali Al-Jufri. Kitab ini sangat penting dan memiliki keterkaitan
dengan Habib Munzir. Karena Habib Ali Al-Jufri dan Habib Munzir sama-sama
berguru kepada guru yang sama yaitu Habib Umar bin Hafiizh, yang Habib
Umar bin Hafiiz inilah yang pernah dihadirkan oleh Habib Munzir di Jakarta dan
digelari sebagai Al-Musnid.
Habib Umar bin Hafiz inilah yang memberi kata pengantar bagi kitab Muridnya
Habib Al-Jufri yang berjudul معالم السلوك للمرأة المسلمة yang telah dibantah oleh Habib
Doktor Kholduun Makky Al-Hasaniy.
Habib Doktor Kholduun Makky Al-Hasaniy berkata di pengantar kitabnya
tersebut :
“Dan gurunya Habib Umar bin Hafiizh telah memberikan kata pengantar
terhadap buku ini, ia telah memuji kitab dan penulisnya (Habib Ali Al-Jufri)
dengan pujian yang sangat tinggi. Bahkan sang guru telah menyifati buku
tersebut dengan menyatakan bahwa buku tersebut adalah nafas-nafas
(tulisan-tulisan) yang penuh keberkahan dan peringatan-peringatan yang mulia…
telah dialirkan oleh Allah pada lisan Habib Al-Jufriy. Dan sang guru telah
memuji Allah atas dimudahkannya dicetaknya kitab ini.
Jadi kitab ini adalah karya As-Syaikh Habib Al-Jufry dan telah diberkahi
dan diberi pengantar oleh gurunya Habib Umar bin Hafiizh. Dengan demikian maka
Habib Al-Jufry bertanggung jawab atas perkara-perkara yang ia tuliskan dalam
buku ini” (lihat kitab Ila aina Ayyuhal Habiib Al-Jufriy hal 17).
Silahkan mendownload kitab ini di (http://www.4shared.com/document/bw_ToTWs/____.html)
Habib Al-Jufri ini memiliki kesalahan-kesalahan fatal dalam masalah aqidah,
bukan di sini perinciannya. Akan tetapi sekedar untuk wawasan maka silahkan
lihat (http://www.youtube.com/watch?v=wPSbtto9wmM&feature=related).
Dan lihat cara ibadahnya (http://www.youtube.com/watch?v=EhO2OfBFZns&feature=related)
Dan Al-Jufriy ini juga suka mencela para ulama wahabi dan merendahkan
mereka, sama seperti teman sejawatnya Habib Munzir. Silahkan lihat
(http://www.youtube.com/watch?v=WBLWOOCJRrg).
Penutup : Mendoakan para habib :
Harapan besar senantiasa kita gantungkan kepada Allah agar para habib
syi’ah atau sufi mau menerima nasehat yang disampaikan oleh para habib Wahabi.
Sungguh betapa bahagia tatkala kita mendapati para habib mendakwahkan warisan
leluhur mereka yaitu sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
meninggalkan peribadatan bid’ah yang tidak pernah dikerjakan oleh leluhur
mereka…
Dengan nama-nama Allah yang Husna dan sifat-sifat-Nya yang ‘Ulya, semoga
Allah mewafatkan kita dan seluruh kaum Muslim di dalam agama Islam yang di bawa
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Semoga Allah Ta’ala selalu memberikan hidayah dan petunjuk-Nya kepada kita
dan kaum muslim serta terkhusus kepada para Habib sehingga menjadi
panutan yang menuntun umat kepada jalan Allah yang lurus dan bukan menuntun
kepada jalan kesesatan dan kekafiran. Allahumma aamiin…
Sungguh indah untaian do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala
beliau membuka sholat malam beliau
اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ
وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ
أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ اهْدِنِى
لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ أَنْتَ تَهْدِى مَنْ
تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Yaa Allah, Robny malaikat Jibri’, Mikail, dan Isroofiil, Pencipta
langit dan bumi, Yang Maha mengetahui yang gaib maupun yang nampak…sesungguhnya
Engkau yang menjadi Hakim diantara hamba-hambaMu pada perkara yang mereka
perselisihkan…berilah aku petunjuk dengan idzinMu kepada kebenaran dari apa
yang diperselisihkan…Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk bagi siapa saja yang
Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus”
Kota Nabi
-shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 27-12-1432 H / 23 November2011 M
Abu Abdilmuhsin
Firanda Andirja
No comments:
Post a Comment